Rojikin Tegaskan Perjuangan Tak Selalu Dilakukan di Medan Perang, Perjuangan Juga Dapat Dilakukan dari Dapur Warteg

KabareTegal – Kita patut memberi apresiasi tinggi kepada Himpunan Pedagang Warteg Indonesia (HIPWIN) adalah organisasi atau wadah resmi yang menaungi para pelaku usaha warung Tegal (warteg) di seluruh Indonesia.

HIPWIN telah maju berkembang dengan banyak kegiatan, yang harlah (hari lahirnya) berdekatan dengan hari lahir negara Indonesia sehingga dalam memperingati harlah HIPWIN ke-5 bersamaan dengan HUT Kemerdekaan RI ke-81.

“Marilah kita panjatkan puji dan syukur kita ke hadirat Allah SWT atas rahmat dan karunia-Nya pada hari yang berbahagia ini kita dapat berkumpul bersama dalam keadaan sehat untuk memperingati Harlah HIPWIN yang kelima sekaligus HUT Kemerdekaan RI ke-81, “ kata Rojikin, Ketua umum HIPWIN, mengawali sambutannya dalam acara Peringatan Harlah HIPWIN ke-5 & HUT Kemerdekaan RI ke-81, di Taman Rekreasi Wiladatika, Jl. Jambore No.1, Harjamukti, Cimanggis, Depok, Jawa Barat, Minggu (30/8/2026).

Lebih lanjut, Rojikin menerangkan, bahwa kemerdekaan yang kita nikmati hari ini adalah hasil perjuangan dan mengorbankan para pahlawan. “Sebagai generasi penerus tugas kita bukan hanya mengenang jasa mereka tetapi juga menghiasi kemerdekaan dengan hal-hal yang positif, “ terangnya

Bagi Rojikin, sebagai pedagang warteg, perjuangan itu dapat diwujudkan dengan bekerja keras. “Menjaga kejujuran, memberikan pelayanan terbaik kepada masyarakat, membuka lapangan pekerjaan serta terus berusaha agar usaha kita semakin maju, “ bebernya

Menurut Rojikin, sesungguhnya perjuangan tidak selalu dilakukan di medan perang. “Perjuangan juga dapat dilakukan dari dapur warteg, dari meja makan, dari pasar, dan dari tempat usaha kita masing-masing, “ paparnya.

Rojikin mengajak seluruh anggota HIPWIN untuk menjadikan semangat kemerdekaan sebagai semangat untuk terus bekerja. “Berkarya dan maju bersama, “ tegasnya.

Harapan Rojikin ke depan HIPWIN semakin kompak. “Jangan sampai perbedaan korwil, atau perbedaan pendapat atau perbedaan kepentingan membuat kita pecah, “ mengingatkan.

Rojikin menyampaikan kita boleh berbeda korwil, tapi kita tetap satu HIPWIN. “Kita boleh berbeda usaha, tetapi kita tetap satu keluarga, yaitu HIPWIN. Kita boleh berbeda pendapat, tapi persaudaraan harus tetap kita jaga. Mari kita bangun HIPWIN dengan semangat guyub, solid dan sejahtera, “ imbaunya.

Rojikin menyampaikan Alhamdulillah, HIPWIN setelah melewati lima tahun ini sudah meraih berbagai pencapaian-pencapaian, mulai dari standarisasi warteg modern sampai dengan ke luar negeri. “Jadi Alhamdulillah HIPWIN sudah tembus ke Melbourne Australia, dan Alhamdulillah warteg mendapat sambutan baik dari masyarakat disana, “ tutur Rojikin penuh rasa syukur.

Sementara itu, KRT. Drs. Leles Sudarmanto Dipuro, M.M., MBA., menyampaikan untuk tetap semangat dengan HIPWIN.

“Yang mahal memberikan koneksitas kepada siapapun, saya mau buka warteg tempatnya dimana, “ ujarnya.

Menurut Leles, warteg itu harus naik kelas. “Harus ada yang ditingkatkan, seperti warteg yang ke luar negeri, ke Melbourne, Ausralia, “ bebernya.

Leles menyampaikan warteg ke MRT. “Dengan demikian nanti kita dilirik banyak pihak, “ mengingatkan.

Bagi Leles, kita perlu meningkatkan trust. “Trust itu tidak harus duit, duit memang perlu, tidak harus duit, kalau kita niatnya mempermudah siapapun, Insya Allah nanti kita diminati banyak orang, “ tegasnya.

Leles menyampaikan dirinya mendarmabaktikan kepada masyarakat. “Kita ikhlas memberikan kebaikan semampunya, “ tandasnya.

H. Edy Budiyarso, S.Pd., S.H., M.H., memanjatkan puji syukur. “Artinya kita dapat keberkahan dan Kesehatan, “ ujarnya.

Dalam kesempatan itu, Edy menitipkan salam dan minta maaf dari Ahmad Muzani karena tidak bisa hadir. “Beliau sangat padat kegiatannya jadi tidak bisa hadir, “ tegasnya.

Edy mengaku kalau bertemu dengan bapak/ibu sekalian seperti bertemu dengan ibunya sendiri. “Saya terharu karena warteg bisa naik kelas, bahkan sampai ke Melbourne, Australia, “ bebernya

“Waktu warteg ke Melbourne, anak saya melaporkan makanannya enak-enak, “ imbuhnya.

Edy mengaku pada tahun 1993, masuk ke Jakarta tidak punya kos. “Saya tinggal di warteg, “ akunya.

Dalam kesempatan itu, Edy menyampaikan dirinya akan memberikan hasil nilai untuk lomba tumpeng. “Saya menjadi juri lomba tumpeng bersama dengan Pak Darmawan, Pak Seno dan Bu Anisa dari BRI, “ tandasnya.

Adapun, Anisa Dwi Sukmawati dari BRI memperkenalkan diri karena baru bertemu “Saya bersyukur bisa bertemu dengan bapak/ibu sekalian, “ ujarnya.

Anisa mengaku dirinya turut menjadi juri lomba tumpeng. “Kami sebagai dewan juri jujur bingung menilai karena tumpengnya semua bagus-bagus, “ bebernya.

Dalam kesempatan itu, Anisa menyampaikan jika bapak/ibu sekalian ingin modal atau pembiayaan, bisa mengajukan pembiayaan dan akan dibantu. “Untuk nominalnya dari 100 juta sampai 500 juta, “ tegasnya.

Harapan Anisa ke depan HIPWIN semakin maju dan berkembang. “Semoga HIPWIN semakin jaya, sukses dan memberikan manfaat untuk seluruh masyarakat Indonesia, “ pungkas Anisa optimis.

Selain lomba tumpeng, acara yang disponsori BRI dan BNI juga digelar lomba iris tempe, tarik tambang, joget mesra dan billiard.

 

Lomba Tumpeng

Juara 1: Korwil Tangerang

Juara 2: Korwil Bekasi

Juara 3: Korwil Jakarta Utara

 

Lomba Tarik Tambang

Juara 1: Korwil Jakarta Timur

Juara 2: Korwil Tangerang

Juara 3: Korwil Jakarta Barat

 

Lomba Iris Tempe

Jamroni

 

Lomba Joget

H Marifah dan Suami

 

Turnamen Billiar

Juara 1: Agus

Juara 2: Jino

Juara 3: Pandi

 

Lomba Kehadiran

Juara 1: Korwil Jakarta Timur

Juara 2: Korwil Bekasi

Juara 3: Korwil Jakarta Barat.***

About AKHMAD SEKHU

Akhmad Sekhu, wartawan dan juga sastrawan, ini lahir 27 Mei 1971 di desa Jatibogor, Suradadi, Tegal, Jawa Tengah. Tinggal di Jakarta, bekerja sebagai wartawan. Puisi-puisinya masuk sekitar 80 buku antologi komunal (1994-2025). Buku antologi puisi tunggalnya; Penyeberangan ke Masa Depan (Yayasan Sastra Gading, 1997), Cakrawala Menjelang (Yayasan Aksara Indonesia, 2000), Memo Kemanusiaan (Balai Pustaka, 2022). Novelnya: Jejak Gelisah (2005) diterbitkan Penerbit Gramedia Widiasarana Indonesia (Grasindo, Gramedia Group), Chemistry (Bubble Books, 2018), Pocinta (Prabu21, 2021). Catatan tentang kesastrawanannya masuk dalam Bibliografi Sastra Indonesia (2000), Leksikon Susastra Indonesia (2001), Buku Pintar Sastra Indonesia (2001), Leksikon Sastra Jakarta (2003), Ensiklopedi Sastra Indonesia (2004), Gerbong Sastrawan Tegal (2010), Apa & Siapa Penyair Indonesia (2017), dan lain-lain. Karya-karyanya sudah banyak dijadikan bahan penelitian dan skripsi tingkat sarjana. Memenangkan Lomba Cipta Puisi Perguruan Tinggi se-Yogyakarta (1999) dan Pemenang Favorit Sayembara Mengarang Puisi Teroka-Indonesiana "100 Tahun Chairil Anwar" (2022).

View all posts by AKHMAD SEKHU →

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *