KabareTegal – British Women’s Association (BWA) Charity Ball 2026 kembali digelar. Acara amal tahunan ini tahun 2026 bertema Royal Ascot, yang terdiri dari makan malam, live music, dansa, dan peragaan busana topi, di mana seluruh keuntungannya akan disumbangkan ke Rachel House untuk perawatan paliatif anak.
Master Batik Nanang Sharna kali ini menghadiri BWA Charity Ball 2026 yang digelar di Four Seasons Hotel Jakarta, Sabtu (9/5/2026).
Kostum yang dikenakannya wastra, kain tradisional khas Nusantara yang kaya akan nilai budaya, filosofi dan sejarah, yang membawa narasi kearifan lokal serta simbol status sosial dan filosofi kehidupan.

“Saya sebenarnya tidak asing dan orang lama di BWA karena saya telah bergabung dengan BWA tahun 1995 sewaktu masih tinggal di London, “ kata Master Batik Nanang Sharna kepada wartawan, Sabtu (9/5/2026),
“Jadi dulu setiap musim party sekitar bulan-bulan Mei, saya pasti pulang ke Indonesia untuk joint BWA dengan menggelar fashion show. Kebetulan saya salah satu desainernya yang diandalkan selama puluhan tahun, “ imbuhnya.
Menurut Nanang, pada tahun 2014, ia memberi kesempatan pada lainnya di tahun itu. “Kemudian, tahun-tahun berikutnya saya tidak ikut lagi karena kesibukan yang tidak bisa ditinggalkan, hingga sekarang saya baru kembali joint dengan BWA lagi, walaupun sebagai tamu, tapi saya ingin mengembangkan lagi karena dana amalnya BWA sebagian untuk Indonesia, “ bebernya.

Nanang memberi apresiasi, BWA dananya sangat nyata. “itu yang menjadi salah satu ketertarikan saya ikut BWA, “ ungkapnya mantap.
BWA berdiri pada 4 Mei 1970. “Sudah sangat lama karena oma saya dulu ikut gabung BWA, “ kenangnya.
Mengenai BWA Charity Ball 2026 yang mengangkat tema ‘Royal Ascot’, Nanang menerangkan, bahwa Royal Ascot itu ajang pacuan kuda paling bergengsi dan mewah di Inggris. “Tapi jangan lupa nenek moyang kita juga menggelar ajang pacuan kuda yang memiliki akar sejarah yang kuat di Nusantara, termasuk kerajaan-kerajaan di Jawa, yang seringkali menjadi bagian dari hiburan rakyat, ritual atau ajang bergengsi para bangsawan kita, “ Nanang mengingatkan.
Nanang menilai sekarang penyelenggaraan BWA terkesan biasa saja yang perlu dibangkitkan agar seperti dulu lagi. “Fashion show-nya tampak hanya sekedar tampil,” ujarnya kritis.
Harapan Nanang ke depan, penyelenggaraan BWA seperti dulu, bahkan kalau bisa lebih.
“Jangan seperti penyelenggaan BWA sekarang yang kurang greget, “ Nanang menyayangkan.
Nanang menyampaikan penyelenggaraan BWA dulu baik sekali. “Dulu pengunjungnya penuh, acaranya meriah dan panjang, dari jam setengah enam soe sampai jam enam pagi, tapi sekarang pengujungnya sepi, sedikit pengunjungnya, jadi nanti ke depan, saya akan bergabung dan semoga penyelenggaraan BWA nanti baik seperti dulu lagi, “ harapannya.
Pesan Nanang kepada wanita Indonesia untuk tetap menjunjung tinggi budaya leluhur yang adiluhung. “karya, tradisi, dan nilai-nilai warisan masa lalu yang memiliki keindahan luar biasa, bernilai tinggi, mulia dan luhur, memang perlu kita lestarikan agar bisa dinikmati anak cucu nanti, “ pungkas Nanang optimis
Perlu diketahui, British Women’s Association (BWA) Jakarta adalah organisasi nirlaba yang didirikan pada 4 Mei 1970 untuk memberikan dukungan, persahabatan, dan informasi bagi perempuan, baik warga negara Inggris maupun berbagai negara lain, yang tinggal di Jakarta. BWA aktif menyelenggarakan kegiatan sosial dan menggalang dana untuk amal lokal.
Dalam BWA Charity Ball 2026 dihadiri staf kedutaan-kedutaan berbagai negara yang berkantor dan bertugas di Jakarta.
Adapun, Nanang Sharna adalah seorang maestro batik, desainer fashion, dan kolektor barang antik terkemuka asal Indonesia yang terkenal dengan karya batik pewarna alami berkualitas tinggi. Karya-karya batiknya dikenakan oleh Nelson Mandela, seorang revolusioner antiapartheid dan politikus Afrika Selatan yang menjabat sebagai Presiden Afrika Selatan sejak 1994 sampai 1999.
Nanang berfokus pada batik tulis dengan pewarna alami dan sering disebut sebagai “Batik Philosopher”.
Nanang dikenal sangat peduli dengan kelestarian warisan budaya nenek moyang, terutama dalam penggunaan pewarnaan alami pada kain batik.***


