KabareTegal – Kita patut melestarikan Tari Endel Tegal yang menjadi identitas budaya Kabupaten Tegal. Sebuah tarian yang memiliki kisah panjang dari seorang perempuan tangguh. Sejak kecil, ia hidup bersama irama gamelan dan panggung dari desa ke desa.
Namanya Sawitri. Meskipun usianya kini hampir 80 tahun, kecintaannya terhadap dunia seni tari seolah tak pernah mengenal kata selesai.
Bagi Sawitri, menari bukan sekadar pertunjukan hiburan, melainkan jalan hidup, warisan keluarga, sekaligus napas kebudayaan yang wajib dijaga agar tidak punah ditelan zaman.
Kisah perjalanan hidup sang maestro kini diabadikan dalam sebuah buku biografi berjudul “Sawitri: Aku Ingin Menari Sampai Mati”. Buku karya Ubaidillah dan Sigit Pamungkas ini resmi diluncurkan di Lasnur Convention Hall Slawi, Kabupaten Tegal.
Acara peluncuran tersebut dihadiri oleh sejumlah tokoh penting, termasuk Bupati Tegal Ischak Maulana Rohman, anggota DPR RI Abdul Fikri Faqih, serta para seniman dan budayawan dari wilayah Kabupaten Tegal dan Kota Tegal.
Silsilah dan Rantai Warisan Tari Endel Kabupaten Tegal
Buku ini bukan sekadar biografi biasa. Karya literasi ini menjadi upaya konkret untuk merekam perjalanan sebuah tradisi yang diwariskan lintas generasi.
Ubaidillah mengungkapkan bahwa sosok Sawitri dipilih karena dedikasinya yang luar biasa terhadap keberlangsungan seni Tari Endel di Kabupaten Tegal. Atas dedikasi tersebut, Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata menganugerahinya gelar maestro pada tahun 2010 lalu.
Namun, ada satu fakta sejarah penting yang diluruskan dalam buku ini: Sawitri bukanlah pencipta Tari Endel, melainkan seorang pewaris.
Tari Endel telah hidup jauh sebelum Sawitri mengenal panggung. Seni ini diwariskan secara turun-temurun melalui garis keluarganya:
- Mbah Darim (Nenek Buyut): Leluhur Sawitri dari Desa Slarang Lor, Kecamatan Dukuhwaru, Kabupaten Tegal. Beliau menguasai 12 jenis seni tari topeng.
- Mbah Warim (Ibu): Meneruskan ilmu tari dari Mbah Darim.
- Sawitri (Maestro): Belajar langsung dari Mbah Warim dan mengangkat popularitas tarian ini.
- Sri Purwanti (Anak Sawitri): Generasi penerus yang kini melanjutkan estafet warisan budaya ini.
Perjalanan Hidup: Dari Panggung Jalanan ke Identitas Daerah
Sawitri lahir di Desa Bogares Kidul, Kecamatan Pangkah. Namun, ia tumbuh besar di Desa Slarang Lor, Kecamatan Dukuhwaru, mengikuti sang ibu. Karena keterbatasan ekonomi dan persoalan keluarga, pendidikan formal Sawitri terhenti di kelas II Sekolah Dasar (SD).
Meski berhenti sekolah, panggung kehidupan Sawitri justru dimulai dari sana. Ia mengikuti ibunya berkeliling dari desa ke desa untuk menghibur masyarakat melalui seni pertunjukan keliling (mengamen). Kala itu, seni adalah cara mereka bertahan hidup.
Kelompok tari tersebut terdiri dari sekitar lima orang yang membawa seperangkat gamelan. Di sepanjang perjalanan itulah Sawitri kecil belajar menari secara otodidak. Tanpa sekolah tari formal, tanpa buku, dan tanpa guru khusus. Ia belajar hanya dengan mengamati setiap gerak-gerik ibunya saat menari Tari Endel.
Dari 12 jenis tari topeng yang dikuasai leluhurnya, Sawitri berhasil menguasai enam jenis, antara lain:
Tari Kresna
Tari Kelana
Tari Panji
Tari Endel
Di antara semuanya, Tari Endel menjadi yang paling diminati masyarakat dan kini resmi ditetapkan sebagai tari khas Kabupaten Tegal.
Literasi Budaya Tegal
Ubaidillah menulis buku ini selama tiga bulan karena gelisah melihat minimnya literasi mengenai sejarah dan filosofi Tari Endel. Menurutnya, video tarian memang mudah ditemukan di YouTube, namun dokumentasi tertulis mengenai latar belakang sejarahnya masih sangat langka.
Menariknya, buku “Sawitri: Aku Ingin Menari Sampai Mati” ini tidak dicetak untuk diperjualbelikan komersial. Cetakan perdana yang terbatas (sekitar 50 hingga 75 eksemplar) akan didistribusikan gratis ke berbagai perpustakaan di Kabupaten Tegal sebagai aset literasi daerah.
Selain buku, dokumentasi visual berupa video juga disiapkan agar generasi muda lebih mudah mempelajari Tari Endel secara akurat. Ubaidillah, yang sehari-hari berprofesi sebagai guru di SUPM Kota Tegal, berharap tarian ini tidak sekadar menjadi pelengkap acara seremonial, tetapi tetap hidup sebagai identitas yang membanggakan.
“Jangan sampai generasi berikutnya hanya mengenal namanya, tetapi tidak tahu sejarah dan siapa sosok di balik penjaga warisan itu,” pungkas Ubaidillah.***


