Rojikin Tegaskan Sebagai Warga Tegal, Kita Harus Bangga dengan Eksistensi Warteg

KabareTegal – Dalam rangka Hari Puisi Indonesia, Dewan Kesenian Kabupaten Tegal (DKKT) menggelar acara Temu Wicara dengan tema ‘Warteg dalam Kebudayaan’ di Gedung Rakyat Slawi, Minggu (26/7/2026). Sebuah tema yang diselaraskan dengan peluncuran buku ‘Ramu-Ramu Warteg’ yang diterbitkan DKKT bekerjasama dengan Himpunan Pedagang Warteg Indonesia (HIPWIN).

Temu Wicara menghadirkan Rojikin, Ketua Umum HIPWIN dan Dr. H. Saepudin, M.A., Rektor Universitas Islam Bakti Negara (UIBN) Tegal, yang dipandu oleh Teguh Puji Harsono, budayawan Tegal.

{“remix_data”:[],”remix_entry_point”:”challenges”,”source_tags”:[],”origin”:”unknown”,”total_draw_time”:0,”total_draw_actions”:0,”layers_used”:0,”brushes_used”:0,”photos_added”:0,”total_editor_actions”:{},”tools_used”:{“transform”:1},”is_sticker”:false,”edited_since_last_sticker_save”:true,”containsFTESticker”:false}
Dalam temu wicara tersebut, Rojikin, antara lain, membahas tentang warteg di masa kini. “Warteg sekarang sudah modern, sudah digital, bahkan sudah go internasional,“ ujarnya.

Lebih lanjut, Rojikin menerangkan bahwa warteg sudah jadi kon Tegal. “Sebagai warga Tegal, kita harus bangga dengan eksistensi warteg, “ terangnya.

Menurut Rojikin, warteg sekarang menerapkan sistem franchise. “Oleh karena itu, warteg sekarang sudah maju berkembang dengan sedemikian pesatnya, di Jabodetabek jumlah warteg sudah sekitar 34.000, “ bebernya.

Rojikin menyampaikan kalau warteg sekarang sudah naik kelas. “Penampilan warteg yang sudah tidak kumuh lagi, tapi sekarang sudah kinclong sehingga pelanngganya dari berbagai kalangan, dari kalanagan bawah, menengah, hingga atas, “ tegasnya.

Rojikin juga menyampaikan pengalamannya Warteg Indo Bahari dan Warteg Grand Bahari yang turut serta dalam acara pameran kerajinan di Jakarta International Convention Center (JICC). “Alhamdulillah wartegnya laris manis, bahkan sampai sering kehabisan nasi, “ tuturnya penuh syukur.

Pihaknya, lanjut Rojikin, sudah mulai tampil di festival tahunan Indonesian Street Food Festival 2026 yang diselenggarakan oleh Indonesian Culinary Association of Victoria (ICAV) di Queen Victoria Market, Melbourne. “Alhamdulillah warteg mendapat sambutan baik dari Masyarakat internasional, “ tuturnya lagi-lagi penuh rasa syukur.

Sementara itu, Dr. H. Saepudin, M.A, menyampaikan tentang warteg yang punya semangat egaliter. “Kita menjunjung tinggi persamaan derajat, karena kalau sudah di warteg, semua sama, duduk di kursi panjang, “ ujarnya.

Saepudin juga menyampaikan tentang semangat pengusaha warteg yang mampu bertahan dari dulu sampai sekarang. “Inilah wong Tegal yang memang punya semangat untuk berusaha dan warteg adalah buktinya, “ tandasnya.

Dalam acara tersebut, turut hadir Ambu Sonia Soema dari Dewan Pimpinan Pusat Forum Kreatif Perfilman Budaya Nusantara (FKPBN) dengan PH Guriang Tujuh Pictures yang siap memproduksi film ‘Jejak Warteg’. ***

About AKHMAD SEKHU

Akhmad Sekhu, wartawan dan juga sastrawan, ini lahir 27 Mei 1971 di desa Jatibogor, Suradadi, Tegal, Jawa Tengah. Tinggal di Jakarta, bekerja sebagai wartawan. Puisi-puisinya masuk sekitar 80 buku antologi komunal (1994-2025). Buku antologi puisi tunggalnya; Penyeberangan ke Masa Depan (Yayasan Sastra Gading, 1997), Cakrawala Menjelang (Yayasan Aksara Indonesia, 2000), Memo Kemanusiaan (Balai Pustaka, 2022). Novelnya: Jejak Gelisah (2005) diterbitkan Penerbit Gramedia Widiasarana Indonesia (Grasindo, Gramedia Group), Chemistry (Bubble Books, 2018), Pocinta (Prabu21, 2021). Catatan tentang kesastrawanannya masuk dalam Bibliografi Sastra Indonesia (2000), Leksikon Susastra Indonesia (2001), Buku Pintar Sastra Indonesia (2001), Leksikon Sastra Jakarta (2003), Ensiklopedi Sastra Indonesia (2004), Gerbong Sastrawan Tegal (2010), Apa & Siapa Penyair Indonesia (2017), dan lain-lain. Karya-karyanya sudah banyak dijadikan bahan penelitian dan skripsi tingkat sarjana. Memenangkan Lomba Cipta Puisi Perguruan Tinggi se-Yogyakarta (1999) dan Pemenang Favorit Sayembara Mengarang Puisi Teroka-Indonesiana "100 Tahun Chairil Anwar" (2022).

View all posts by AKHMAD SEKHU →

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *