Luna Maya Kembali “Hidupkan” Suzzanna di Film ‘Suzzanna: Santet Dosa di Atas Dosa’

KabareTegal – Luna Maya mengungkap tantangan karena kembali dipercaya “menghidupkan” tokoh ikonik Suzzanna dalam film Suzzanna: Santet Dosa di Atas Dosa.

Namun, peran kali ini bukan sekadar kelanjutan waralaba. Luna harus berhadapan langsung dengan bayang-bayang besar Suzzanna, legenda horor yang telah melekat kuat di memori kolektif publik Indonesia.

Luna mengungkapkan bahwa tantangan terbesarnya adalah menjaga keseimbangan antara menghormati sosok Suzzanna tanpa terjebak pada upaya meniru secara mentah. Ia menegaskan, pendekatan yang diambil adalah meneruskan legacy, bukan menggantikan.

“Kesulitannya susah banget, karena ini soal memenuhi ekspektasi penonton. Bunda Suzzanna itu sudah sangat melekat di hati masyarakat Indonesia, fans-nya luar biasa,” ujar Luna saat Press Conference Launching Official Trailer Film ‘Suzzanna: Santet Dosa di Atas Dosa’, Senin (26/1/2026).

Lebih lanjut, Luna menerangkan, berbeda dari film-film Suzzanna sebelumnya, karakter Suzzanna dalam Dosa di Atas Dosa ditampilkan sepenuhnya sebagai manusia dari awal hingga akhir cerita. Tak ada transformasi menjadi sosok hantu. Justru pendekatan inilah yang memberi ruang lebih luas bagi Luna untuk menggali lapisan emosional karakter.

“Di sini Suzana benar-benar manusia penuh dari awal sampai akhir. Itu yang membedakan dan justru membuat saya lebih senang karena bisa lebih mendalami karakternya,” terang Luna.

Menurut Luna, proses pendalaman karakter dilakukan secara detail, mulai dari intonasi, cara berbicara, hingga ciri khas dialog yang selama ini identik dengan Suzzanna. Meski demikian, Luna menyadari bahwa interpretasinya tak mungkin sepenuhnya sama.

“Tidak mungkin 100% sama, karena kami orang yang berbeda. Tapi saya ingin menghidupkan kembali spirit dan karisma beliau,” bebernya.

Luna menyampaikan, film ini juga menjadi proyek yang sangat personal bagi dirinya. Suzzanna: Santet Dosa di Atas Dosa merupakan satu-satunya film yang ia bintangi sepanjang 2026, membuatnya mencurahkan perhatian dan energi secara maksimal, termasuk menjaga disiplin tinggi selama proses syuting.

Melalui pendekatan yang lebih manusiawi dan emosional, Luna berharap penonton tidak lagi semata melihat Suzana sebagai ikon horor, melainkan sebagai perempuan dengan luka batin, pengalaman penindasan, dan pergulatan moral yang kompleks.

“Semoga penonton tetap bisa melihat bahwa Suzzanna hidup, berlanjut, dan relevan,” pungkas Luna Maya.

Film ‘Suzzanna: Santet Dosa di Atas Dosa’ menghadirkan kisah kelam tentang dendam, kekuatan gelap, dan cinta yang penuh dilema. Cerita ini menampilkan sisi berbeda dari sosok Suzzanna yang dikenal dalam semesta film horor Indonesia. Kali ini, Suzanna tak lagi hadir sebagai sundel bolong, melainkan sosok perempuan dengan kekuatan santet yang mengerikan.

Suzzanna diceritakan sebagai perempuan yang dicintai oleh Bisman (Clift Sangra), seorang penguasa desa yang dikenal kejam dan haus kekuasaan. Namun, ambisi Bisman justru membuatnya tega menyantet ayah Suzzanna hingga tewas.

Kematian sang ayah menjadi luka mendalam bagi Suzzanna dan menumbuhkan dendam yang tak terbendung. Rasa kehilangan itu mendorongnya untuk mempelajari ilmu santet demi membalas perbuatan Bisman.

Seiring perjalanan balas dendam tersebut, Suzzanna mulai menyadari bahwa kekuatan yang dimilikinya jauh lebih besar dan berbahaya dari yang ia bayangkan. Kegelapan perlahan menguasai dirinya, mengaburkan batas antara kebenaran dan dosa.

Di tengah konflik batin itu, Suzzanna bertemu dengan Pramuja (Reza Rahadian), seorang pria yang taat beragama dan berhati tulus. Tanpa Pramuja sadari, Suzzanna menyimpan rahasia kelam tentang kekuatan gelap yang ia miliki.

Hubungan keduanya berkembang menjadi perasaan cinta yang rumit dan penuh dilema. Suzzanna dihadapkan pada pertentangan antara dendam yang membara dan cinta yang menawarkan jalan keselamatan.

Pilihan demi pilihan berat harus dihadapi Suzzanna dalam hidupnya. Ia harus menentukan apakah akan meneruskan dendamnya atau mempertaruhkan segalanya demi cinta yang baru ia temukan.

Film ini disutradarai oleh Azhar Kinoi Lubis dan diproduseri oleh Sunil Soraya. Sementara naskahnya ditulis oleh Ferry Lesmana, Jujur Prananto, dan Sunil Soraya.

‘Suzzanna: Santet Dosa di Atas Dosa’ disebut sebagai babak baru dalam IP Suzzanna yang membawa warna berbeda dalam perfilman horor Indonesia. Ceritanya tidak hanya menawarkan teror, tetapi juga konflik emosional dan nilai kemanusiaan.

Mengusung genre horor-aksi, film ini diharapkan menjadi tontonan yang menghibur sekaligus reflektif. Film ‘Suzzanna: Santet Dosa di Atas Dosa’ dijadwalkan tayang di bioskop pada momen Lebaran tahun 2026 ini.***

 

About AKHMAD SEKHU

Akhmad Sekhu, wartawan dan juga sastrawan, ini lahir 27 Mei 1971 di desa Jatibogor, Suradadi, Tegal, Jawa Tengah. Tinggal di Jakarta, bekerja sebagai wartawan. Puisi-puisinya masuk sekitar 80 buku antologi komunal (1994-2025). Buku antologi puisi tunggalnya; Penyeberangan ke Masa Depan (Yayasan Sastra Gading, 1997), Cakrawala Menjelang (Yayasan Aksara Indonesia, 2000), Memo Kemanusiaan (Balai Pustaka, 2022). Novelnya: Jejak Gelisah (2005) diterbitkan Penerbit Gramedia Widiasarana Indonesia (Grasindo, Gramedia Group), Chemistry (Bubble Books, 2018), Pocinta (Prabu21, 2021). Catatan tentang kesastrawanannya masuk dalam Bibliografi Sastra Indonesia (2000), Leksikon Susastra Indonesia (2001), Buku Pintar Sastra Indonesia (2001), Leksikon Sastra Jakarta (2003), Ensiklopedi Sastra Indonesia (2004), Gerbong Sastrawan Tegal (2010), Apa & Siapa Penyair Indonesia (2017), dan lain-lain. Karya-karyanya sudah banyak dijadikan bahan penelitian dan skripsi tingkat sarjana. Memenangkan Lomba Cipta Puisi Perguruan Tinggi se-Yogyakarta (1999) dan Pemenang Favorit Sayembara Mengarang Puisi Teroka-Indonesiana "100 Tahun Chairil Anwar" (2022).

View all posts by AKHMAD SEKHU →

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *