Kabaretegal – Sutradara perempuan Indonesia telah memberikan kontribusi besar. Dari sejumlah nama sutradara perempuan Indonesia, mencuat nama Chiska Doppert, yang cukup banyak menggarap film yang turut punya andil bagi perkembangan dunia perfilman di Tanah Air.
Sebutlah film-film garapannya, antara lain, Missing, Poconggg Juga Pocong, Love is Brondong, Kerasukan, Pantai Selatan, Kamar 207, Cermin Penari Jaipong, Mengejar Malam Pertama, Ketika Tuhan Jatuh Cinta, Get Lost: Urban Legend di Benteng Pendem, Maju Serem Mundur Horor, dan lain-lain. Deretan film-film garapannya yang selalu mendaoat sambutan baik dari masyarakat.
Berikut ini petikan wawancara dengan Chiska Doppert, mulai dari awal ketertarikannya menjadi sutradara, cita-citanya dari kecil, sosok-sosok yang memotivasi, suka-duka, pengalaman paling berkesan, pandangannya mengenai perkembangan dunia perfilman, hingga harapan ke depan tentang penyutradaraan film.

“Awalnya sebenarnya dari ketertarikan pada cerita. Sejak dulu saya selalu tertarik dengan kisah-kisah manusia—tentang emosi, konflik, dan perjalanan hidup. Dari situ saya mulai belajar bagaimana cara menyampaikan cerita itu lewat medium visual. Lama-lama saya sadar bahwa menjadi sutradara memberi ruang paling luas untuk menerjemahkan cerita ke dalam gambar, suara, dan emosi. Dari situlah perjalanan saya di dunia penyutradaraan dimulai, “ kata Chiska Doppert menuturkan awal dirinya menjadi sutradara film, kepada wartawan, Jumat (13/3/2026)
Lebih lanjut, Chiska Doppert menerangkan tentang kiprahnya menjadi sutradara film. “Kalau dibilang cita-cita sejak kecil, mungkin belum se-spesifik itu. Tapi sejak kecil saya memang sangat suka menonton film dan memperhatikan bagaimana cerita disampaikan. Semakin dewasa, saya mulai memahami bahwa film bukan hanya hiburan, tapi juga medium yang sangat kuat untuk menyampaikan pesan dan menyentuh hati banyak orang. Dari situlah muncul keinginan untuk terlibat lebih jauh, sampai akhirnya memilih jalan sebagai sutradara, “ terangnya.
Menurut Chiska Doppert menjadi sutradara film motivasi terbesarnya datang dari banyak sumber. “Pertama tentu dari keluarga dan orang-orang terdekat yang selalu mendukung. Kedua dari guru saya, Nayato Fionuala. Selain itu juga dari para filmmaker yang karya-karyanya membuka mata saya bahwa film bisa menjadi sesuatu yang sangat powerful. Melihat bagaimana sebuah film bisa menggerakkan emosi penonton membuat saya semakin yakin ingin berada di dunia itu, “ bebernya.

Chiska Doppert menceritakan suka dukanya selama menjadi sutradara film. “Sukanya tentu ketika melihat sebuah cerita yang awalnya hanya ada di kepala atau di atas kertas akhirnya hidup di layar. Melihat tim bekerja bersama, aktor memberikan performa terbaiknya, dan penonton bisa merasakan emosi dari cerita itu—itu sangat membahagiakan, “ paparnya.
“Dukanya, proses membuat film itu tidak mudah. Banyak tantangan teknis, keterbatasan waktu, kadang juga tekanan produksi. Tapi justru dari tantangan itu kita belajar banyak dan semakin berkembang sebagai filmmaker, “ imbuhnya penuh semangat.
Saat ditanya, pengalaman apa yang paling berkesan selama menjadi sutradara film?
Dengan tenang, Chiska Doppert memberikan jawaban, “Pengalaman paling berkesan adalah ketika melihat reaksi penonton terhadap film yang kita buat. Saat mereka tersentuh, tertawa, atau bahkan menangis karena cerita yang kita sampaikan, itu menjadi momen yang sangat berarti. Di situ kita merasa bahwa film benar-benar bisa terhubung dengan perasaan manusia.”

Chiska Doppert mengungkap, bahwa setiap film sebenarnya punya tantangan masing-masing, baik dari sisi cerita, produksi, maupun emosi yang ingin disampaikan. “Ada film yang menantang secara teknis, ada juga yang menantang secara emosional karena ceritanya sangat dalam. Tapi justru dari tantangan itu proses kreatif menjadi lebih menarik dan memacu kita untuk memberikan yang terbaik, “ ungkapnya mantap.
Bagi Chiska Doppert, film yang paling berkesan biasanya adalah film yang memiliki kedekatan emosional dengan dirinya. “Judulnya ‘Ketika Tuhan Jatuh Cinta’, Film yang ceritanya terasa sangat personal atau memiliki pesan kuat yang ingin saya sampaikan kepada penonton. film seperti itu meninggalkan jejak yang paling dalam bagi saya, “ kenangnya.
Pendapat Chiska Doppert mengenai perkembangan dunia perfilman di Tanah Air.
“Menurut saya perkembangan perfilman Indonesia saat ini sangat menarik dan semakin beragam. Banyak sineas muda yang berani bereksperimen dengan cerita dan gaya visual baru. Selain itu juga semakin banyak platform yang membuka peluang film Indonesia untuk menjangkau penonton yang lebih luas, bahkan sampai ke pasar internasional. Ini menjadi momentum yang sangat baik bagi industri film kita, “ tegasnya.
Adapun, harapan Chiska Doppert ke depan tentang penyutradaraan film. “Harapan saya ke depan tentu ingin terus berkembang sebagai storyteller dan bisa membuat film-film yang bukan hanya menghibur, tetapi juga memiliki makna bagi penonton. Saya juga berharap semakin banyak cerita dari film Indonesia yang bisa dikenal di dunia internasional, karena kita memiliki begitu banyak kisah yang kuat dan unik untuk diceritakan, “ pungkas Chiska Doppert optimis.***


