Aktor Tegal Edwin Bahari Lakoni Peran sebagai Jaya dalam Sinetron ‘Aira’ di RCTI

KabareTegal – Orang Tegal sudah banyak yang berkarir dalam dunia entertainment, khususnya film dan musik. Sebut saja misalnya, aktor senior Parto Tegal yang eksis era 70-an, kemudian sekarang semakin banyak aktor dari Tegal yang berkibar, antara lain, aktor Slamet Ambari (alm), pesulap dan aktor Demian Aditya, Master Limbad, hingga aktor muda Riza Syah.

Kali ini, aktor dan penyanyi dari Tegal yang sangat berbakat, yakni Edwin Bahari yang kini melakoni peran sebagai Jaya dalam sinetron produksi MNC Pictures yang berjudul ‘Aira’. Sebuah sinetron yang tak hanya menyajikan drama emosional, namun juga mengangkat isu yang relevan dengan realitas sosial saat ini. Salah satunya, soal kekerasan seksual terhadap perempuan.

“Saya berperan sebagai Jaya, “ kata Edwin Bahari kepada wartawan, Selasa (3/2/2026).

Lebih lanjut, aktor kelahiran Tegal itu menerangkan perannya dalam sinetron tersebut. “Karakternya annoying, genit, antagonis, bisa dibilang yang suka mengganggu Aira, “ terangnya.

Menurut Edwin, dirinya mulai masuk sinetron ‘Aira’ di episode enam.

“Sekarang sinetron ‘Aira’ sudah tayang sampai episode delapan, “ bebernya.

“Lokasi syutingnya di daerah Lido kompleks MNCTV, “ tegasnya.

Harapan Edwin, sinetron ‘Aira’ yang dibintanginya tersebut akan bertahan lama.

“Semoga syuting streeping sinetron ‘Aira’ akan panjang dan semoga peran Jaya selalu dinantikan, “ pungkas Edwin Bahari optimis.

Sinetron ‘Aira’ berkisah tentang Aira yang sedang berada di puncak kebahagiaan saat bersiap menyambut hari pernikahannya dengan sang kekasih, Adrian. Namun, sehari sebelum harinya itu, sebuah permintaan dari atasannya, Haris, memaksanya kembali ke kantor untuk mengirimkan sebuah email yang terlupa.

Keputusannya itu menjadi titik awal tragedi yang mengubah hidup Aira selamanya. Di kantor, Aira tanpa sengaja menjumpai aksi perampokan yang dilakukan dua lelaki tak dikenal. Dalam kepanikan, ia berusaha menyelamatkan diri, tetapi justru menjadi korban kekerasan brutal. Salah satu pelaku, Edwin menganiaya dan memperkosa Aira, meninggalkan luka fisik dan trauma mendalam yang tak terbayangkan.

Aira selamat, tetapi kehidupannya runtuh karena ia tidak mengetahui identitas para pelaku karena wajah para perampok tertutup rapat dan ditambah ia sempat tak sadarkan diri. Trauma itu membuat masa depannya hancur.

Adrian, yang tak sanggup menerima kenyataan itu, memilih untuk membatalkannya. Farhan, ayah Aira, terpukul melihat putri satu-satunya kehilangan senyum dan harapannya. Berbeda dengan Farhan, Laras, ibu tiri Aira, justru diliputi rasa malu dan tekanan sosial akibat gunjingan masyarakat. la mendesak Farhan buat pindah rumah demi menghindari aib keluarganya.

Di sisi lain, Haris diliputi rasa bersalah yang mendalam karena telah memanggil Aira kembali ke kantor pada malam itu. Ujian bagi Aira terasa bertambah berat ketika ia mengetahui dirinya hamil akibat insidennya itu.

Dalam sinetron yang disutradarai Yogi Yose, Edwin beradu akting dengan Sarah Beatrix sebagai Aira, Rizky Alatas (Haris), Teuku Ryan (Farhan), Ayu Permatasari (Laras), Agoye Mahendra (Edwin), Venly Arauna (Adrian Wiratmaja), Silvia Putri (Selly), Ratu Bijak (Nina), Exan Pahlevi (Jacky), Monica Kezia (Nindy), Endah Pitasari (Juju), dan Sari Rafles sebagai Yeyen.

Sinetron ‘Aira’ ditayangkan perdana 26 Januari 2026 pukul 17.00 WIB di RCTI.***

 

About AKHMAD SEKHU

Akhmad Sekhu, wartawan dan juga sastrawan, ini lahir 27 Mei 1971 di desa Jatibogor, Suradadi, Tegal, Jawa Tengah. Tinggal di Jakarta, bekerja sebagai wartawan. Puisi-puisinya masuk sekitar 80 buku antologi komunal (1994-2025). Buku antologi puisi tunggalnya; Penyeberangan ke Masa Depan (Yayasan Sastra Gading, 1997), Cakrawala Menjelang (Yayasan Aksara Indonesia, 2000), Memo Kemanusiaan (Balai Pustaka, 2022). Novelnya: Jejak Gelisah (2005) diterbitkan Penerbit Gramedia Widiasarana Indonesia (Grasindo, Gramedia Group), Chemistry (Bubble Books, 2018), Pocinta (Prabu21, 2021). Catatan tentang kesastrawanannya masuk dalam Bibliografi Sastra Indonesia (2000), Leksikon Susastra Indonesia (2001), Buku Pintar Sastra Indonesia (2001), Leksikon Sastra Jakarta (2003), Ensiklopedi Sastra Indonesia (2004), Gerbong Sastrawan Tegal (2010), Apa & Siapa Penyair Indonesia (2017), dan lain-lain. Karya-karyanya sudah banyak dijadikan bahan penelitian dan skripsi tingkat sarjana. Memenangkan Lomba Cipta Puisi Perguruan Tinggi se-Yogyakarta (1999) dan Pemenang Favorit Sayembara Mengarang Puisi Teroka-Indonesiana "100 Tahun Chairil Anwar" (2022).

View all posts by AKHMAD SEKHU →

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *